Minggu, 10 April 2016

Untuk Bunda Tercinta, dari Anakmu yang akan Segera Menikah

Ibuk, surat ini memang sengaja aku tulis untukmu. Aku tidak ingin menyampaikan pernyataan ini secara langsung kepada ibuk karena aku enggan menangis tersedu.
Aku juga tidak bisa melihat ibuk menitikkan air mata dan membuat suasana menjadi haru biru. Sebentar lagi aku akan menapaki hidup baru bersama calon suamiku.
Doakan aku buk, semoga kebahagiaan selalu mengiringi langkahku dan belahan jiwaku.
Walaupun aku akan segera meninggalkan rumahh, tapi tenang saja, aku selamanya tetap anak ibuk.”

Buk, aku ingin mengucapkan terimakasih karena ibuk sudah memberikan masa kecil yang sempurna dan mendampingiku hingga aku tumbuh menjadi wanita dewasa.
Ibuk lah malaikat yang diberi kepercayaan dari Sang Maha Segalanya untuk menjagaku. Ibuk selalu menjaga kandungan saat ragaku masih berwujud janin dan bersemayam di dalam rahim. Bahkan, saat aku terlahir ke dunia dan hanya mampu terbaring dan menangis, ibuk tidak keberatan merawat bahkan rela terjaga hingga pagi buta demi memastikan kenyamananku.

kenangan dari banyaknya memori manis saat bersama ibuk yang masih lekat di lingkar kepala. Sewaktu aku kecil, aku enggan berpisah barang sedetik pun dari ibuk. Aku merasa nyaman dan aman di dekatmu. Hatiku pun demikian, selalu hangat dan meremang tiap kali ada kehadiran ibuk. Ya, ibuk selalu berhasil menjadi oase di tengah kegundahan dan kegamangan yang aku rasa.
Hingga aku beranjak dewasa seperti sekarang, aku tidak pernah kekurangan limpahan kasih sayang. Dari ibuk aku belajar apa arti mencintai dan menyayangi tanpa syarat.
Ibuk adalah teladan hidupku. Dari ibuk aku mendapatkan sifat-sifat yang memang layak untuk ditiru. Saat papa sibuk bekerja di luar kota, ibuk lah yang selalu ada dan sedia menjagaku dan adik-adik di rubukh. Ibuk selalu memberikan perlindungan dan mencukupi segala yang kami butuhkan. Bahkan, saat ibuk sibuk dengan urusan pekerjaan, kebutuhanku dan saudaraku tidak pernah terabaikan. Buksih ‘kah ibuk ingat ketika harus bangun di pagi buta setiap harinya? Atau bahkan saat ibuk rela waktu bukkan siang ibuk terpotong karena tidak ingin terlambat menjemputku dari gerbang sekolah?
Ya, dari ibuk aku belajar banyak hal. Pengorbanan serta peneribukan yang juga sepaket dengan kasih sayang yang tidak pernah ada habisnya.
Bahkan, hingga dewasa pun aku buksih mengandalkan ibuk untuk mengajariku berbagai cara supaya bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Aku belajar bagaimana cara mengatur keuangan yang merupakan bekal penting dari kehidupan rumah tanggaku kelak. Aku juga menimba ilmu dapur dari ibuk. Bagaimana cara meracik bumbu hingga menghidangkan santapan yang kaya gizi untuk buah hati masa depanku.
Lewat ajaran dan contoh yang ibuk berikan, aku mampu berdiri di atas kaki sendiri dan siap menatap dunia dengan gagah berani.
Hubungan kita memang tidak selamanya hangat, terkadang kita berseberangan. Tetapi aku selalu tahu bahwa rasa sayang ibuk tidak pernah berkesudahan.
Hubungan kita memang tidak selamanya hangat, buk. Terkadang aku dan ibuk saling mendiamkan atau malah kita terlibat pertengkaran. Aku tidak setuju terhadap pola pikir ibuk yang ku anggap terlalu kuno. Begitu juga ibuk yang tidak bisa menerima pendapatku karena dianggap bertentangan.

Aku tahu bahwa sikapku secara tak sengaja telah menggoreskan luka di hati ibuk. Aku minta maaf buk, itu semua karena terkadang aku lelah mengikuti aturan yang ibuk buat. Iya aku tahu aturan itu memang demi kebaikanku. Hanya saja aku ingin menapaki jalanku dengan caraku sendiri.
Sekali lagi, maafkan aku ya buk, jika aku pernah membangkang dan membuat hati ibuk sedikit berlubang.
Ketika aku mulai dewasa dan mengenal kata pacaran, aku juga memahami bahwa rasa khawatir ibuk selalu lebih dari takaran.
Aku tidak pernah lupa kenangan itu. Saat pertama kali aku mengalami ketertarikan dengan teman lawan jenisku. Ibuk selalu risau dengan diselingi cemas yang tak berkesudahan. Bukan tanpa alasan, ibuk menganggap pergaulan anak zaman sekarang membahayakan. Ibuk tidak ingin aku terjerumus ke hal yang bukan-bukan yang tak kusadari bisa merusak hidupku di masa depan.

Sekarang ibuk tidak perlu khawatir lagi, lelaki pilihanku memang sanggup menggenapiku. Dia juga berbeda dari jejeran mantan yang pernah menjadi bagian dari kisah cintaku. Dia bertanggung jawab dan mampu menjadi suami idaman. Percayalah buk, aku bahagia bersamanya. Dan, bukankah ibuk tidak perlu lagi mengkhawatirkan masa depanku .
“Ya, Ibuk tidak perlu khawatir. Esok anak gadis ibuk ini akan mengucapkan janji sehidup sebukti dengan pria yang mampu menggenapi hidupnya secara utuh.”
Ke manapun aku melangkah, aku tidak akan pernah lupa rumah. Ibuk adalah rumahku dan aku selalu tau jalan pulang.
Esok adalah hari pentingku buk, dimana aku dan calon suamiku akan menjadi raja dan ratu sehari. Hari itu juga merupakan penanda bahwa babak baru di hidupku akan segera dimulai. Aku akan menjadi seorang istri dengan tanggung jawab yang tidak sederhana. Kemudian, jika Sang Maha Segalanya merestui, tanggung jawabku pun akan bertambah. Aku akan menimang makhluk lucu yang juga akan menjadi cucu ibuk.

“Doakan aku ya buk, semoga aku mampu menjadi seorang istri yang mengayomi serta ibu yang tangguh seperti ibuk.”
Walaupun hidupku akan lebih berwarna dengan adanya suami dan buah hati, tapi aku tetap tidak akan melupakan dan melalaikan ibuk. Aku akan selalu menghubungi dan menanyakan pertimbangan ibuk mengenai ini itu. Aku memang sudah dewasa namun aku tetaplah buah hati ibuk yang selalu membutuhkan bimbingan dari ibuk.
Jangan khawatir buk, walaupun akan tinggal dengan suami dan memiliki rumah sendiri, kemanapun aku pergi, aku akan selalu ingat rumah. Dimana ada Ibuk disitulah rumahku berada. Aku akan selalu mengingat jalan pulang.
“Ibuk tidak perlu bersedih, sampai kapan pun aku akan selalu jadi anak ibuk.”
Dariku,
Buah hati ibuk yang siap menapaki jenjang hidup yang selanjutnya