Ibuk, surat ini memang sengaja aku tulis untukmu. Aku tidak
ingin menyampaikan pernyataan ini secara langsung kepada ibuk karena aku enggan
menangis tersedu.
Aku juga tidak bisa melihat ibuk menitikkan air mata dan membuat
suasana menjadi haru biru. Sebentar lagi aku akan menapaki hidup baru bersama
calon suamiku.
Doakan aku buk, semoga kebahagiaan selalu mengiringi langkahku
dan belahan jiwaku.
Walaupun aku akan segera meninggalkan rumahh, tapi tenang saja, aku selamanya
tetap anak ibuk.”
Buk, aku ingin mengucapkan terimakasih karena ibuk sudah
memberikan masa kecil yang sempurna dan mendampingiku hingga aku tumbuh menjadi
wanita dewasa.
Ibuk lah malaikat yang diberi kepercayaan dari Sang Maha Segalanya untuk
menjagaku. Ibuk selalu menjaga kandungan saat ragaku masih berwujud janin dan
bersemayam di dalam rahim. Bahkan, saat aku terlahir ke dunia dan hanya mampu
terbaring dan menangis, ibuk tidak keberatan merawat bahkan rela terjaga hingga
pagi buta demi memastikan kenyamananku.
kenangan dari banyaknya memori manis saat bersama ibuk yang masih
lekat di lingkar kepala. Sewaktu aku kecil, aku enggan berpisah barang sedetik
pun dari ibuk. Aku merasa nyaman dan aman di dekatmu. Hatiku pun demikian,
selalu hangat dan meremang tiap kali ada kehadiran ibuk. Ya, ibuk selalu
berhasil menjadi oase di tengah kegundahan dan kegamangan yang aku rasa.
Hingga aku beranjak dewasa seperti sekarang, aku tidak pernah
kekurangan limpahan kasih sayang. Dari ibuk aku belajar apa arti mencintai dan
menyayangi tanpa syarat.
Ibuk adalah teladan hidupku. Dari ibuk aku mendapatkan
sifat-sifat yang memang layak untuk ditiru. Saat papa sibuk bekerja di luar
kota, ibuk lah yang selalu ada dan sedia menjagaku dan adik-adik di rubukh. Ibuk
selalu memberikan perlindungan dan mencukupi segala yang kami butuhkan. Bahkan,
saat ibuk sibuk dengan urusan pekerjaan, kebutuhanku dan saudaraku tidak pernah
terabaikan. Buksih ‘kah ibuk ingat ketika harus bangun di pagi buta setiap
harinya? Atau bahkan saat ibuk rela waktu bukkan siang ibuk terpotong karena
tidak ingin terlambat menjemputku dari gerbang sekolah?
Ya, dari ibuk aku belajar banyak hal. Pengorbanan serta peneribukan
yang juga sepaket dengan kasih sayang yang tidak pernah ada habisnya.
Bahkan, hingga dewasa pun aku buksih mengandalkan ibuk untuk
mengajariku berbagai cara supaya bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Aku
belajar bagaimana cara mengatur keuangan yang merupakan bekal penting dari
kehidupan rumah tanggaku kelak. Aku juga menimba ilmu dapur dari ibuk. Bagaimana
cara meracik bumbu hingga menghidangkan santapan yang kaya gizi untuk buah hati
masa depanku.
Lewat ajaran dan contoh yang ibuk berikan, aku mampu berdiri di
atas kaki sendiri dan siap menatap dunia dengan gagah berani.
Hubungan kita memang tidak selamanya hangat, terkadang kita
berseberangan. Tetapi aku selalu tahu bahwa rasa sayang ibuk tidak pernah
berkesudahan.
Hubungan kita memang tidak selamanya hangat, buk. Terkadang aku dan ibuk saling
mendiamkan atau malah kita terlibat pertengkaran. Aku tidak setuju terhadap
pola pikir ibuk yang ku anggap terlalu kuno. Begitu juga ibuk yang tidak bisa
menerima pendapatku karena dianggap bertentangan.
Aku tahu bahwa sikapku secara tak sengaja telah menggoreskan
luka di hati ibuk. Aku minta maaf buk, itu semua karena terkadang aku lelah
mengikuti aturan yang ibuk buat. Iya aku tahu aturan itu memang demi
kebaikanku. Hanya saja aku ingin menapaki jalanku dengan caraku sendiri.
Sekali lagi, maafkan aku ya buk, jika aku pernah membangkang dan
membuat hati ibuk sedikit berlubang.
Ketika aku mulai dewasa dan mengenal kata pacaran, aku juga memahami
bahwa rasa khawatir ibuk selalu lebih dari takaran.
Aku tidak pernah lupa kenangan itu. Saat pertama kali aku mengalami
ketertarikan dengan teman lawan jenisku. Ibuk selalu risau dengan diselingi cemas
yang tak berkesudahan. Bukan tanpa alasan, ibuk menganggap pergaulan anak zaman
sekarang membahayakan. Ibuk tidak ingin aku terjerumus ke hal yang bukan-bukan
yang tak kusadari bisa merusak hidupku di masa depan.
Sekarang ibuk tidak perlu khawatir lagi, lelaki pilihanku memang
sanggup menggenapiku. Dia juga berbeda dari jejeran mantan yang pernah menjadi
bagian dari kisah cintaku. Dia bertanggung jawab dan mampu menjadi suami idaman.
Percayalah buk, aku bahagia bersamanya. Dan, bukankah ibuk tidak perlu lagi
mengkhawatirkan masa depanku .
“Ya, Ibuk tidak perlu khawatir. Esok anak gadis ibuk ini akan
mengucapkan janji sehidup sebukti dengan pria yang mampu menggenapi hidupnya
secara utuh.”
Ke manapun aku melangkah, aku tidak akan pernah lupa rumah. Ibuk
adalah rumahku dan aku selalu tau jalan pulang.
Esok adalah hari pentingku buk, dimana aku dan calon suamiku akan menjadi raja
dan ratu sehari. Hari itu juga merupakan penanda bahwa babak baru di hidupku
akan segera dimulai. Aku akan menjadi seorang istri dengan tanggung jawab yang
tidak sederhana. Kemudian, jika Sang Maha Segalanya merestui, tanggung jawabku
pun akan bertambah. Aku akan menimang makhluk lucu yang juga akan menjadi cucu ibuk.
“Doakan aku ya buk, semoga aku mampu menjadi seorang istri yang
mengayomi serta ibu yang tangguh seperti ibuk.”
Walaupun hidupku akan lebih berwarna dengan adanya suami dan
buah hati, tapi aku tetap tidak akan melupakan dan melalaikan ibuk. Aku akan
selalu menghubungi dan menanyakan pertimbangan ibuk mengenai ini itu. Aku memang
sudah dewasa namun aku tetaplah buah hati ibuk yang selalu membutuhkan
bimbingan dari ibuk.
Jangan khawatir buk, walaupun akan tinggal dengan suami dan
memiliki rumah sendiri, kemanapun aku pergi, aku akan selalu ingat rumah. Dimana
ada Ibuk disitulah rumahku berada. Aku akan selalu mengingat jalan pulang.
“Ibuk tidak perlu bersedih, sampai kapan pun aku akan selalu jadi
anak ibuk.”
Dariku,
Buah hati ibuk yang siap menapaki jenjang hidup
yang selanjutnya